1. Sejarah Farmasi



Farmasi di Masa Kejayaan Islam

”Setiap penyakit pasti ada obatnya.” Sabda Rasulullah SAW yang begitu populer di kalangan umat Islam itu tampaknya telah memicu para ilmuwan dan sarjana di era kekhalifahan untuk berlomba meracik dan menciptakan beragam obat-obatan. Pencapaian umat Islam yang begitu gemilang dalam bidang kedokteran dan kesehatan di masa keemasan tak lepas dari keberhasilan di bidang farmasi.

Di masa itu para dokter dan ahli kimia Muslim sudah berhasil melakukan penelitian ilmiah mengenai komposisi, dosis, penggunaan, dan efek dari obat-obat sederhana serta campuran. Menurut Howard R Turner dalam bukunya Science in Medievel Islam, umat Islam mulai menguasai farmasi setelah melakukan gerakan penerjemahan secara besar-besaran di era Kekhalifahan Abbasiyah.

Salah satu karya penting yang diterjemahkan adalah “De Materia Medica” karya Dioscorides. Selain itu para ilmuwan Muslim juga melakukan transfer pengetahuan tentang obat-obatan dari berbagai naskah yang berasal dari Suriah, Persia, India, serta Timur Jauh.

Karya-karya terdahulu itu telah membuat para ilmuwan Islam terinspirasi untuk melahirkan berbagai inovasi dalam bidang farmasi. ”Kaum Muslimin telah menyumbang banyak hal dalam bidang farmasi dan pengaruhnya sangat luar biasa terhadap Barat,” papar Turner.

Betapa tidak, para sarjana Muslim di zaman kejayaan telah memperkenalkan adas manis, kayu manis, cengkeh, kamper, sulfur, serta merkuri sebagai unsur atau bahan racikan obat-obatan. Menurut Turner umat Islam-lah yang mendirikan warung pengobatan pertama. Para ahli farmasi Islam juga termasuk yang pertama dalam mengembangkan dan menyempurnakan pembuatan sediaan sirup dan salep.

Pada mulanya, ilmu farmasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ilmu kedokteran. Dunia farmasi profesional secara resmi terpisah dari ilmu kedokteran di era kekuasaan Kekhalifahan Abbasiyah. Terpisahnya farmasi dari kedokteran pada abad ke-8 M, membuat profesi farmasis menjadi profesi yang independen dan farmasi sebagai ilmu yang berdiri sendiri.

Dalam praktiknya, farmasi melibatkan banyak praktisi seperti herbalis, kolektor, penjual tumbuhan & rempah-rempah untuk obat-obatan, penjual dan pembuat sirup, kosmetik, air aromatik, serta apoteker yang berpengalaman. Merekalah yang kemudian turut mengembangkan farmasi di era kejayaan Islam.

Setelah dinyatakan terpisah dari ilmu kedokteran, beragam penelitian dan pengembangan dalam bidang farmasi atau saydanah (bahasa Arab) kian gencar dilakukan. Pada abad itu, para ilmuwan Muslim secara khusus memberi perhatian untuk melakukan investigasi atau pencarian terhadap beragam produk alam yang bisa digunakan sebagai obat-obatan di seluruh pelosok dunia Islam.

Di zaman itu, toko-toko obat bermunculan bak jamur di musim hujan. Toko obat yang banyak jumlahnya tak cuma hadir di kota Baghdad – kota metropolis dunia di era kejayaan Abbasiyah – namun juga di kota-kota Islam lainnya. Para ahli farmasi ketika itu sudah mulai mendirikan apotek sendiri. Mereka menggunakan keahlian yang dimilikinya untuk meracik, menyimpan, serta menjaga aneka obat-obatan.

Pemerintah Muslim pun turun mendukung pembangunan di bidang farmasi. Rumah sakit milik pemerintah yang ketika itu memberikan perawatan kesehatan secara cuma-cuma bagi rakyatnya juga mendirikan laboratorium untuk meracik dan memproduksi aneka obat-obatan dalam skala besar.

Keamanan obat-obatan yang dijual di apotek swasta dan pemerintah diawasi secara ketat. Secara periodik, pemerintah melalui pejabat dari Al-Muhtasib – semacam badan pengawas obat-obatan – mengawasi dan memeriksa seluruh toko obat dan apotek. Para pengawas dari Al-Muhtasib secara teliti mengukur akurasi berat dan ukuran kemurnian dari obat yang digunakan.

Pengawasan yang amat ketat itu dilakukan untuk mencegah penggunaan bahan-bahan yang berbahaya dalam obat. Semua itu dilakukan semata-mata untuk melindungi masyarakat dari bahaya obat-obatan yang tak sesuai dengan aturan. Pengawasan obat-obatan yang dilakukan secara ketat dan teliti yang telah diterapkan di era kekhalifahan Islam mestinya menjadi contoh bagi negara-negara Muslim, khususnya Indonesia.

Seperti halnya di bidang kedokteran, dunia farmasi profesional Islam telah lebih unggul lebih dulu dibandingkan Barat. Ilmu farmasi baru berkembang di Eropa mulai abad ke-12 M atau empat abad setelah Islam menguasainya. Karena itulah, Barat banyak meniru dan mengadopsi ilmu farmasi yang berkembang terlebih dahulu di dunia Islam.

Umat Islam mendominasi bidang farmasi hingga abad ke-17 M. Setelah era keemasan perlahan memudar, ilmu meracik dan membuat obat-obatan kemudian dikuasai oleh Barat. Negara-negara Eropa menguasai farmasi dari aneka Risalah Arab dan Persia tentang obat dan senyawa obat yang ditulis para sarjana Islam. Tak heran, bila kini industri farmasi dunia berada dalam genggaman Barat.

Pengaruh kaum Muslimin dalam bidang farmasi di dunia Barat begitu besar. “Hal itu tecermin dalam kembalinya minat terhadap pengobatan natural yang begitu populer dalam pendidikan kesehatan saat ini,” papar Turner. Mungkinkah umat Islam kembali menguasai dan mendominasi bidang farmasi seperti di era keemasan?

Kontribusi Ilmuwan Islam di Bidang Farmasi.

Ibnu Al-Baitar

Lewat risalahnya yang berjudul Al-Jami fi Al-Tibb (Kumpulan Makanan dan Obat-obatan yang Sederhana), Ibnu Al-Baitar turut memberi kontribusi dalam dunia farmasi. Dalam kitabnya itu, Al-Baitar mengupas beragam tumbuhan berkhasiat obat yang berhasil dikumpulkannya di sepanjang pantai Mediterania antara Spanyol dan Suriah. Tak kurang dari seribu tanaman obat dipaparkannya dalam kitab itu. Seribu lebih tanaman obat yang ditemukannya pada abad ke-13 M itu berbeda dengan tanaman yang telah ditemukan ratusan ilmuwan sebelumnya. Tak heran bila kemudian Al-Jami fi Al-Tibb menjadi teks berbahasa Arab terbaik yang berkaitan dengan botani pengobatan. Capaian yang berhasil ditorehkan Al-Baitar sungguh mampu melampaui prestasi Dioscorides. Kitabnya masih tetap digunakan sampai masa Renaisans di Eropa.

Abu Ar-Rayhan Al-Biruni (973 M – 1051 M)

Al-Biruni mengenyam pendidikan di Khwarizm. Beragam ilmu pengetahuan dikuasainya, seperti astronomi, matematika, filsafat dan ilmu alam. Ia memulai melakukan eksperimen ilmiah sejak remaja. Ilmuwan Muslim yang hidup di zaman keemasan Dinasti Samaniyaah dan Ghaznawiyyah itu turut memberi kontribusi yang sangat penting dalam farmasi. Melalui kitab As-Sydanah fit-Tibb, Al-Biruni mengupas secara lugas dan jelas mengenai seluk-beluk ilmu farmasi. Kitab penting bagi perkembangan farmasi itu diselesaikannya pada tahun 1050 M – setahun sebelum Al-Biruni tutup usia. Dalam kitab itu, Al-Biruni tak hanya mengupas dasar-dasar farmasi, namun juga meneguhkan peran farmasi serta tugas dan fungsi yang diemban seorang farmasis.

Abu Ja’far Al-Ghafiqi (wafat 1165 M)

Ilmuwan Muslim yang satu ini juga turut memberi kontribusi dalam pengembangan farmasi. Sumbangan Al-Ghafiqi untuk memajukan ilmu tentang komposisi, dosis, meracik dan menyimpan obat-obatan dituliskannya dalam kitab Al-Jami’ Al-Adwiyyah Al-Mufradah. Buku tersebut memaparkan tentang pendekatan metodologi eksperimen, serta observasi dalam bidang farmasi.

Al-Razi

Sarjana Muslim yang dikenal di Barat dengan nama Razes itu juga ikut andil dalam membesarkan bidang farmasi. Ilmuwan Muslim serba bisa itu telah memperkenalkan penggunaaan bahan kimia dalam pembuatan obat-obatan.

Sabur Ibnu Sahl (wafat 869 M)

Ibnu Sahal adalah dokter pertama yang mempelopori pharmacopoeia (farmakope). Kontribusinya dalam bidang farmasi juga terbilang amat besar. Dia menjelaskan beragam jenis obat-obatan. Sumbangannya untuk pengembangan farmasi dituangkannya dalam kitab Al-Aqrabadhin.

Ibnu Sina

Dalam kitabnya yang fenomenal, Canon of Medicine, Ibnu Sina juga mengupas tentang farmasi. Ia menjelaskan lebih kurang  700 cara pembuatan obat dengan kegunaannya. Ibnu Sina menguraikan tentang obat-obatan yang sederhana.

Al-Zahrawi

Bapak ilmu bedah modern ini juga ikut andil dalam membesarkan farmasi. Dia adalah perintis pembuatan obat dengan cara sublimasi dan destilasi.

Yuhanna Ibnu Masawayh (777 M – 857 M)

Orang Barat menyebutnya Mesue. Ibnu Masawayh merupakan anak seorang apoteker. Kontribusinya juga terbilang penting dalam pengembangan farmasi. Dalam kitab yang ditulisnya, Ibnu Masawayh membuat daftar sekitar 30 macam aromatik.
Salah satu karya Ibnu Masawayh yang terkenal adalah kitab Al-Mushajjar Al-Kabir. Kitab ini merupakan semacam ensiklopedia yang berisi daftar penyakit berikut pengobatannya melalui obat-obatan serta diet.

Abu Hasan ‘Ali bin Sahl Rabban at- Tabari

At-Tabari lahir pada tahun 808 M. Pada usia 30 tahun, dia dipanggil oleh Khalifah Al-Mu’tasim ke Samarra untuk menjadi dokter istana. Salah satu sumbangan At-Tabari dalam bidang farmasi adalah dengan menulis sejumlah kitab. Salah satunya yang terkenal adalah Paradise of Wisdom. Dalam kitab ini dibahas mengenai pengobatan menggunakan binatang dan organ-organ burung. Dia juga memperkenalkan sejumlah obat serta cara pembuatannya.

2. Silabus kurikulum Nasional Program Pendidikan Sarjana Farmasi

1. Pendidikan Kewarganegaraan [2]
Pendahuluan, filsafat pancasila (pancasila sebagai sistem filsafat dan sebagai ideologi bangsa dan negara, identitas nasional, politik dan strategi, demokrasi Indonesia, hak azasi manusia dan rule of law, hak dan kewajiban warganegara, geopolitik dan geostrategi Indonesia.
Pustaka :

a. Kaelan, 2003, Pendidikan Pancasila, Paradigma, Yogyakarta
b. Lemhanas, 1980, Kewiraan untuk Mahasiswa, Gramedia, Jakarta
c. Lemhanas, 1992, Pendidikan Kewarganegaraan, Gramedia, Jakarta
d. Poespowardoyo, S, 1989, Filsafat Pancasila, Gramedia, Jakarta
e. Sunardi, R.M., 1997, Teori Ketahanan Nasional, Penerbit Hastanas, Jakarta

2. Pendidikan Agama [2]
Pendahuluan; Tuhan YME dan ketuhanan, manusia (kakekat, martabat dan tanggung jawab); hukum (untuk menumbuhkan kesadaran supaya taat hukum Tuhan dan fungsi profetik agama); moral; ilmu pengetahuan teknologi dan seni (iman, ipteks dan amal sebagai kesatuan,kewajiban menuntut dan mengamalkan ilmu, tanggung jawab ilmuwan dan seniman); pembinaan pribadi ummat beragama sebagai anggota keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara; masyarakat (beradab dan sejahtera dan peran masya-rakat, HAM dan demokrasi); budaya (akademik, etos kerja, sikap terbuka dan adil); serta politik (kontribusi agama dalam kehidupan berpolitik dan peranan agama dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa).
Pustaka:

Diserahkan kepada masing-masing agama

3. Bahasa [2]

a. Bahasa Indonesia
Pendahuluan: membicarakan pokok bahasan masalah analisis teks tentang pola kalimat, hubungan antara kalimat, frase, bentuk tulisan, narasi, deskripsi, ekspresi, argumentasi, asas-asas penyusunan gagasan dalam karangan, gaya bahasa dan latihan transformasi ke bahasa ilmiah, dan latihan mengarang dalam bahasa ilmiah

b. Bahasa Inggris
Pendahuluan; membicarakan pokok bahasan tentang reading, translating, vocabulary and structure untuk dapat memahami buku teks kefarmasian dalam bahasa Inggris dan menerjemhakan buku teks atau artikel ilmiah dalam bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia

4. Ilmu-Ilmu Dasar untuk Farmasi [4]
Pendahuluan (kegunaan basic science dalam farmasi):
- Matematika: membicarakan pokok bahasan masalah him-punan fungsi, grafik fungsi, limit dan kontinuitas, derivatif, integral tak tentu, integral tertentu, matrik;
- Fisika: konsep dasar fisika untuk farmasi,kinematika, dinamika,hukum Newton,hukum kekekalan, mekanika zat alir, termodinamika, fisika modern;
- Kimia: membicarakan kinetika gas, kinetika kimia, reaksi kesetimbangan teori atom dan molekul dalam larutan, elektrolit , ikatan kimia, termokimia dan energetika, asam-basa, kimia inti dan unsur-unsur transisi, reaksi redoks, metode pemisahan, senyawa anorganik dalam sistem biologi
Pustaka:

a. Brady, J.E., 1990, General Chemistry, Principles and Structure, John Wiley & Sons, Toronto
b. Clarke, P.S., 1974, Calculus and Analytic Geometry, Heath and Co., Ontario, Canada
c. Petrucci, R.H., 1985, General Chemistry, Principles and Modern Application, 4th. Ed., Collier Mac Inc., New York
d. Miller, M., 1977, College Physics, 4th. ed., Haecourt Brace Jovanovich Inc., New York
e. Mizrahi, A., and Sullivan, M, 1982, Calculus and Analytic Geometry, Wadesworth Inc., California.
f. Schaum, D., 1977, Theory and Problems of College Physics, McGraww Hill Book Co., New York

5. Biologi Sel [2]
Pendahuluan; organisasi sel dan subsel prokariot dan eukariot; asam nukleat dan protein; proses biologi dalam sel prokariot dan eukariot; ekspresi gen dan mekanisme pengendalian; genetika mikroba; sistem transport pada prokariot dan eukariot; prinsip rekayasa genetika dan produk rekombinan dalam bidang farmasi.
Pustaka:

a. Glick, B. and Pasternack J.J., 1994, Principles and Application of Recombinant DNA, American Sosiety of Microbiology, Washington
b. Lengeler, J.W., Drews, G., and Schleegel, H.G., 1999, Biology of the Prokaryotes, Blackwell Sciences, New York.
c. White, D, 2000, The Physiology and Biochemistry of Prokaryotes, 2nd. Ed., Oxford University Press., New York.

6. Kimia Organik [4(1)]
Pendahuluan; membicarakan struktur dan ikatan kimia; nomenklatur dan sifat molekul organik; mekanisme reaksi organik dan pengenalan stereokimia; reaksi substitusi dan eliminasi (alifatik dan siklik); senyawa karbonil (aldehida dan keton, reaksi addisi nukleofilik dan elektrofilik; asam karboksilat (turunan asam karboksilat spt turunan asilhalida, ester, amida, anhidrida); reaksi-reaksi spesifik karbonil (pembentukan ikatan C-C, reaksi substi-tusi karbonil-alpha, reaksi kondensasi karbonil); karbohidrat; senyawa heterosiklik, polimerisasi.
Pustaka:

a. Fassenden R.J., and Fassenden, J.S., 1986, Organic Chemistry, Wardsworth Inc., California
b. Mc Murry J., 2004, Organic Chemistry, Wards-worth Inc., California
a. Salomons, T.W.G, 1997, Fundamentals of Organic Chemistry, John Willey & Sons, New York
b. Vogel, A.I., 1990, A Textbook of Practical Organic Chemistry, Longman, London

7. Kimia Analisis [3(1)]
Pendahuluan, membicarakan metode-metode analisis baik kualitatif maupun kuantitatif dengan mengkaitkan terjadinya interaksi radiasi elektromagnetik dengan molekul menggunakan instrumentasi spektrometri (spektrofometer uv-vis, infra merah, spektrofluorometri), pemisahan senyawa dari campurannya menggunakan sistem kromatografi (gas, cair kinerja tinggi), dan analisis elektrokimia (potensiometri, coulometri dan polarografi); volumetri; dan gravimetri.
Pustaka:

a. Christian, G.D., 1994, Analytical Chemistry, John Willey & Sons, New York
b. Harris, D.C., 1987, Quantitative Chemical Analysis, 2nd. Ed., Freeman Co., New York
c. Pecsok, R.L., Shields, L.D., and Cairns, T., and McWilliam, I.G., 1976, Modern Methods of Chemical Analysis, 2nd. Ed., John Willey & Sons, New York.
d. Kealey, D.,and Haines, P.J., 2002, Analytical Chemistry, Bios Scien. Publ., Oxford
e. Skoog, D.A., Holler, F.J., and Crouch, S.R., 2007, Principles of Instrumental Analysis, 6th. Ed., Thomson, Belmont.
f. Willard, H.H., Merrit Jr., L.L., Dean, J.A., and Settle Jr, F.A., 1988, Instrumental Methods of Analysis, 7th. Ed, Wadsworth Publ. Co., California

8. Botani Farmasi [3(1)]
Pendahuluan; ruang lingkup botani; isi sel protoplasmik dan organel; sistematika, determinasi dan pengertian tentang tumbuh-tumbuhan obat; tumbuh-tumbuhan rendah dan tinggi termasuk nabati bahari yang meliputi nama tumbuh-tumbuhan, familia, morfologi; letak dan fungsinya; dan bagian tanaman yang di-gunakan dalam farmasi; dan tumbuhan obat Indonesia.
Pustaka:

a. Anonim, 1985, Medicinal Herbs Index in Indonesia, Jilid I, PT Eisai Indonesia, Jakarta
b. Anonim, 1985, Tanaman Obat Indonesia, Jilid I, Dep. Kes. RI, Jakarta
c. Anonim, 1995, Medicinal Herbs Index in Indonesia, Jilid II, PT Eisai Indonesia, Jakarta
d. Bisset, N.G., 1994, Herbal and Phytopharmaceutical, Medpharm Scientific Publ, Stutgart
e. Bruneton, J., 1995, Pharmacognosy, Phytochemistry and Medicinal Plants, Lavosier Publ., Paris
f. Syamsuhidayat, S.S., dan Hutapea, J.R., Inven-taris Tanaman Obat Indonesia I, Dep. Kes. RI, Jakarta
g. Sudarsono, Didik Gunawan, Subagus Wayuono, Imono Argo Donatus, dan Purnomo, 2002, Tumbuhan Obat I dan II, PPOT-UGM, Yogyakarta.
h. Youngken, H.W., Pharmaceutical Botany, The last Ed., Blackiston Co., Philadelphia
i. Watt, J.M., and Breyer-Brandwijk, R., 1962, The Medicinal and Poisonous Plants of Southern and Eastern Africa, 2nd. Ed., Livingstone Ltd., London.

9. Anatomi Fisiologi Manusia [3(1)]
Pendahuluan; membahas konsep dasar tubuh sebagai kesatu-an; istilah anatomi dan fisiologi; organisasi di tingkat molekuler-sel-jaringan; mekanisme transpor di dalam tubuh, struktur dan fungsi; penilaian fungsi serta penyimpangan pada fungsi sistem peliput, sistem: lokomotorius, syaraf, pancaindra, endokrin, kardiovaskular, limfatik dan imunitas, respiratori, pencernaan, uriner; kesetimbangan cairan, elektrolit, asam-basa; sistem reproduksi serta integrasi antar sistem.
Pustaka:

a. Langley, L.L (Editor), 1990, Dynamic of Anatomy and Physiology, Mc Graw Hill Co., New York
b. Martini, F.H., 2001, Fundamentals of Anatomy and Physiology ., 5th. Ed., Prentice Hall, New Jersey
c. Tortora, G.J., and Anagnostakos, N.P., Principles of Anatomy and Physiology, 4th. Ed., Harper and Row Publ., New York
d. Wood, M.G., 1998, Laboratory Textbook of Anatomy and Physiology ., Freeman Co., San Fransisco

10. Biokimia [3(1)]
Pendahuluan, protein dan asam amino; teknik pemurnian protein; lipid dan membran; enzim sebagai katalis; Km, Vm dan inhibisi enzim; konsep dasar dan metabolisme karbohidrat; daur asam sitrat; fosforilasi oksidatif.
Pustaka:

a. Berg, J.M., Tymoczko, J.L., and Styrer, L., 2002, Biochemistry, 5th. Ed., Freeman Co., San Fransisco
b. Clark, J.M., and Robert, L.S., 1977, Experimental Biochemistry, 2nd. Ed., ., Freeman Co., San Fransisco
c. Elliot W.H., and Elliot, D.C., 1996, Biochemistry and Molecular Biology, John Willey & Sons, New York
d. Lehninger, A.L., 2003, Principles of Biochemistry, Tata Mc Graw Hill Co., New Delhi.

11. Mikrobiologi dan Virologi [3(1)]
Pendahuluan; membicarakan pokok bahasan masalah biologi dari mikroorganisme; patogenisitas pertumbuhan mikroorganisme dan fermentasi; metabolit yang dihasilkan oleh mikroorganisme; konsep antibiosis dan antisepsis; virus (biologi dan pertumbuhan-nya); penggunaan mikro-organisme dalam farmasi (penetapan kadar antibiotika, uji sensitivitas, uji angka lempeng total, uji kapang, uji bioautografi dsb), uji sterilitas.
Pustaka:

a. Anonim, Farmakope Indonesia, Edisi IV, Jakarta
b. Attlas, R.M., Brown, A.E., Dobra, K.W., and Lionas, M., 1989, Experimental Microbiology Fundamental and Aplication, Mc Millan Publ. Co., New York
c. Browne, L.M., and Szenthe, N.A., 1989, Laboratory Manual for Microbiology, 2nd. Ed., Dept. Chemis. Univer. of Alberta, Canada
c. Hugo, W.B., and Russel, A.D., 1999, Pharmaceutical Microbiology, 5th. ed., Blackwell Scient. London
d. Madigan, T.M., Martinko, J.M., and Parker, J., 1997, Biology of Mycroorganism, Ed. 8., Prentice Hall Inc., New Jersey
e. Russel, A.d., Chopra, I., 1990, Understanding Antibacterial Action and Resistance, Ellis Horwood Lim., London

12. Imunologi [2]
Pendahuluan; fungsi dan mekanisme produksi antibodi oleh sel-sel penghasil antibodi; molekul pengenal antigen; interaksi antigen-antibodi; isolasi dan pemurnian antibodi; reaksi immuno-kimia; molekul-molekul yang terlibat dalam respon imun dan mekanisme deaktivasi agen infeksi, pembuatan monoklonal anti-bodi; macam dan metode pembuatan konjugat; dan pembuatan vaksin rekayasa serta strategi terapi kanker, autoimmun, hipersensitivitas.
Pustaka:

a. Abbas, A.K., Lichman, A.H., and Pober, J.S., 1994, Cellular and Molecular Immunology, 2nd. Ed., WB Saunders, Co., Philadelphia
b. Roit, I., Brostoff, J., and Male, D., 1998, Immuno-logy, 5th. Ed., Mosby, London
c. Roit, I., 1997, Essential Immunology, 9th. Ed., Blackwell Co., London

13. Patologi [2]
Pendahuluan, membicarakan pokok bahasan tentang kondisi patologi sel, jaringan, prose inflamasi secara umum, dan organ; jejas/trauma dan penimbunan intraselular; adaptasi dan kematian sel; inflamasi akut dan kronis; regenerasi dan kesembuhan luka; penyakit infeksi dan neoplasia serta pengenalan patofisiologi.
Pustaka:

a. Greene, R.J., Harris, N.D., and Goodyer, L.I., 2000, Pathology and Therapeutics for Pharmacists : A Basic for Clinical Pharmacy,2nd. Ed., Pharm. Press., London
b. Kumar, V., Cotran, R.S., and Robin, S.L., 1997, Basic Pathology, 6th. Ed., W.B. Saunders, Philadelphia
c. Stevens, A., Lowe, J., 1995, Pathology, 2nd. Ed., Mosby, London

14. Farmasi Fisika [3(1)]
Pendahuluan; sifat fisikomimia molekul obat; kinetika dan orde reaksi; kelarutan dan faktor yang mempengaruhinya; difusi dan disolusi; stabilitas (fungsi dan cara penentuannya); pengertian tentang fenomena antar permukaan dan penentuan tegangan permukaan; sistem dispersi (koloid, emulsi, suspensi, dispersi padat); pengertian rheologi dan viskositas serta hubungannya dalam farmasi, mikromeritik, sifat-sifat fisika senyawa obat berbentuk serbuk.
Pustaka:

a. Florence, 1988, Physicochemical Principles of Pharmacy. 2nd. Ed., McMillan Pub., London
b. Martin, A.M., 2006, Physical Pharmacy, 4th. Ed., Lea & Febiger, Philadelphia

15. Farmasetika Dasar [3(1)]
Pendahuluan (introduction to pharmacy); Farmakope dan kegunaannya, prinsip dan teknik dasar pembuatan sediaan farmasi; resep (yang mencakup persyaratan, kelengkapan, perhitungan dosis, aspek sosial: hubungan dengan tenaga medik); peralatan dan perlengkapan dalam pembuatan sediaan farmasi; jenis dan macam sediaan farmasi (padat, cair, semi solida dan galenik).
Pustaka:

a. Anonim, Farmakope Indonesia, Edisi I, II, III dan IV, Jakarta
b. Troy, B.D (ed.) 2006, Remington : The Science and Practice of Pharmacy, 21st. Ed., Lippincott Williams & Wilkins
c. Thomson, J.E., 2004, A practical guide to Contem-porary Pharmacy Practice, Lippincott Williams & Wilkins

16. Teknologi Sediaan Farmasi [5(1)]
Pendahuluan; rancangan bentuk sediaan; garis besar formulasi sediaan; hub rute/cara pemberian dengan bentuk sediaan dan tahap-tahap pengembangan sediaan; preformulasi; eksipien; sistem peralatan dalam pembuatan sediaan; formulasi, cara pembuatannya, dan evaluasi sediaan obat, kosmetik, dan bahan alam (solida, cair, semi solida dan steril).
Pustaka:

a. Amstrong, N.A., and James, K.C., 1996, Pharmaceutical Experimental Design and Inter-pretation, Taylor and Francis, Bristol
b. Aulton, M.E., 1988, The Science of Dosage Form Design, Churchil Livingstone, Edinburg
c. Avis, K.E., Lachman, L., and Lieberman, H.A., 2000, Pharmaceutical Dosage Form : Parenteral, Tablet, Disperse system, Vol I,II,III, Marcel Dekker Inc., New York
d. Banker, G.S., and Rhodes, C.T., 1996, Modern Pharmaceutics, 3rd . Ed., Marcel Dekker Inc., New York
e. Gennaro, A.R., 1995, Remington : The Science and Practice of Pharmacy, 19th. Ed., Mack Publ. Co., Pensylvania
f. Lachman, 1986, The Theory and Practice of Industrial Pharmacy, 2nd. Ed., Lea & Febiger, Philadelphia

17. Analisis Farmasi [3(1)]
Pendahuluan, membicarakan pokok bahasan masalah analisis kuantitatif komponen tunggal atau kompleks obat dalam sediaan padat, semi padat, cair dan steril dan analisis kosmetik dengan metode spektrofotometri, fluorometri, TLC, GC, HPLC, CE, dan elektrokimia; validasi metode analisis sesuai yang tercantum dalam farmakope.
Pustaka:

a. Ahuja, S., and Scypinski, S., 2001, Handbook of Modern Pharmaceutical Analysis, Vol. 3, Academic Press., San Diego
b. Cunnif, F., 1995., Official Methods of Analysis, 16th. Ed., AOAC Interns., New York
c. Horwitz, W., and Latimer, G.W., 2005, Official Methods of Analysis, AOAC International, Maryland.
d. Sanzel, A.J., 1977, Newburger’s Manual Cosmetic Analysis, 2nd. Ed., Off. An. Chem. Inc., Washington

18. Kimia Medisinal [2]
Pendahuluan, hubungan struktur dan sifat kimia fisika obat dengan proses ADME, hubungan kelarutan dan stereokimia obat dengan aktivitas, teori interaksi obat-reseptor, HKSA (hubungan kuantitatif struktur dan aktivitas), metabolisme obat dan senyawa organik lain, hubungan metabolisme dan aktivitas obat dan rancangan obat, modifikasi molekul dan rancangan obat yang rasional, macam-macam obat seperti : obat antiinfeksi, anti-biotika, diuretika, penekan dan perangsang susunan syaraf pusat, obat anti tumor, dsb.
Pustaka:

a. Foye, W.O., 1981, Principles of Medicinal Chemistry, 3rd. Ed., Lea & Febiger, Philadelphia
b. Gringauz, A., 1997, Medicinal Chemistry : How Drugs Act and Why?, John Wiley & Son, New York
c. Korokolvas, B., 1976, Essential of Medicinal Chemistry, John Wiley & Son, New York
d. Sardjoko, 1993, Rancangan Obat, Gadjah Mada University Press., Yogyakarta
e. Siswandono dan Bambang Sukardjo, 2000, Kimia Medisinal, Airlangga University Press., Surabaya
f. Topliss, J.G., 1983, Quantitative Structure-Activity Relationship of Drugs, Academic Press Inc., New York

19. Farmakognosi – Fitokimia [5(1)]
Pendahuluan (ruang lingkup farmakognosi dan fitokimia dengan pengembangan obat); mutu obat yang berasal dari tumbuhan, hewan dan mineral; variabilitas yang mempengaruhi bahan alam obat; standarisasi; kandungan kimia bahan obat alam; penggolongan konstituen,biosintesis; pengetahuan bahan simpli-sia, ekstrak dan minyak atsiri; teknik uji biologi dan mikrobiologi; penapisan secara kimia; fraksinasi dan isolasi kandungan kimia; metode kimia dan spektrometri pada karakterisasi dan elusidasi struktur; dan berbagai golongan senyawa kimia sebagai model pemisahan dan pencirian (kumarin, flavonoid, alkaloid, terpenoid, kinon, kurkuminoid dengan aspek bahasan meliputi struktur, ekstraksi, pemisahan, pemurnian dan identifikasi, aspek botani dan aktivitas dari simplisia)
Pustaka:

a. Anonim, 2000, Quality Control Methods for Medicinal Plant Material, WHO, Geneva
b. Bisset, N.G., 1994, Herbal and Phytopharmaceutical, Medpharm Scientific Publ, Stutgart
c. Bruneton, J., 1995, Pharmacognosy, Phytochemistry and Medicinal Plants, Lavosier Publ., Paris
d. Evans, W.C., 2002, Pharmacognosy, 16th. Ed., W.B. Saunders, London
e. Harbone, J.B., 1987, Metode Fitokimia, Terjemahan Padmawinata, Penerbit ITB, Bandung
f. Ikan, R., 1991, Natural Products : A Laboratory Guide, 2nd. Ed., Academic Press., New York
g. Mabry, T.J., Markham, M.B., and Thomas, M.B., 1970, The Systematic Identification of Flavonoids, Springer Verlag, Berlin
h. Robinson, T., 1995, Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi, Terjemahan Padmawinata, Penerbit ITB, Bandung
i. Wijesekera, R.O.B., 1991, The Medicinal Plant Industry, CRC Press. Inc., Florida

20. Farmakologi-Toksikologi [5(1)]
Pendahuluan, uraian farmakologi dan toksikologi obat-obat sistem saraf, kardiovaskular, sistem pencernaan, sistem respirasi dan sistem ekskresi. Dasar pengunaan obat hormon, suplemen dan antiinfeksi, uraian farmakologi-toksikologi obat-obat hormon, vitamin, obat yang mempengaruhi darah, antiinfeksi, antiparasit, antitumor dan desinfektan; ruang lingkup toksikologi, nasib zat racuni di dalam tubuh (aneka kondisi; mekanisme aksi, wujud dan sifat zat toksik, aneka faktor intrinsik); tolok ukur toksisitas kualitatif dan kuantitatif; pengertian sistem dan aneka ragam uji toksisitas.
Pustaka :

a. Craig, C.R., (Editor), 1990, Modern Pharmacology, 4th. Ed., Liyye Brown Co., New York
b. Dipama, J.R., (Editor), 1994, Basic Pharmacology in Medicine, 4th. Ed., Medicinal Surv.Inc., Pjiladelphia
c. Hardman, J.A., (Editor), 1995, Goodman and Gilman’s The Pharmacological Basis of Theura-peutics, 9th. Ed., Mc Graw Hill, New York
d. Katzung, B.B. 1996, Basic and Clinical Pharmacology, 5th. Ed., Prentice Hall Int.Inc., London
e. Niesink, R.J.M., de Vries, J., and Hollinger , M.A., Toxicology, Principles and Applications, CRC Press. Inc., New York.

21. Biofarmasetika-Farmakokinetika [4(1)]
Pendahuluan; perjalanan dan nasib obat dalam tubuh; teori pelepasan, pelarutan, difusi, absorbsi; membran biologis dan mekanisme absorbsi; berbagai faktor yang mempengaruhi absorpsi obat dan bioavailabilitas,parameter bioavailabilitas; rute pemberian (biofarmasi sediaan oral, rektal, kulit, mata, paru-paru dan parenteral; dan evaluasi ketersediaan hayati sediaan farmasi.
Batasan farmakokinetika dan aplikasinya dalam bidang farmasi dan pengobatan, hubungan kadar obat dalam plasma dan aktivitas obat; model satu kompartemen terbuka, model dua kompartemen terbuka, pengaturan dosis, kinetika absorbsi obat, ikatan protein obat, metabolisme obat, ekskresi renal, farmako-kinetika non linier.
Pustaka:

a. Abdou, H.M., 1989, Dissolution, bioavailability and bioequivalence, Mark. Publ. Co., Pennyslvania
b. Banker, G.S., and Rhodes, C.T., 1996, Modern Pharmaceutics, 3rd . Ed., Marcel Dekker Inc., New York
c. Shargel, L., 1999, Apllied Biopharmaceutics and Pharmacokinetics, 4th.Ed., Appleton Century Croft Publ., New York
d. Swarbick, J., 1975, Current Concept in Pharma-ceutical Sciences: Dosage form Design and Bioavailability, Lea & Febiger, Philadelphia
e. Wagner, J.G., 1993, Pharmacokinetics for the Pharmaceutical Scientist, Technomic Publ., Bassel.

22. Farmakoterapi [2]
Pendahuluan, membicarakan pokok bahasan masalah dasar-dasar farmakoterapi sistem syaraf; sistem renal dan kardivaskular; sistem pencernaan dan pernafasan; sistem hormon dan endokrin; penyakit infeksi; kanker; patofisiologi dan pemilihan obat untuk masing-masing penyakit; serta evaluasi penggunaan beberapa obat pada beberapa kasus.
Pustaka:

a. Dipiro, J.T., Talbert, RI., and Yen, G.C., 1997, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, 3rd. ed., Appleton & Lange, Stamford.
b. Herfindal, E.T., and Gourley, D.R., 2000, Textbook of Therapeutics, Drug and Disease Management, 7th. ed., Lippincot & Williams, Philadelphia
c. O Graddy, F., Lambert, H.P., Finch, R.G., and Greenwood, D., 1997, Antibiotic and Chemotherapy : Anti-infective agents and their use in therapy, 7th. Ed., Churchill, Livingstone.
d. Schwinghammer, T.L., 2002, Pharmacotherapy Casebook: A Patient Focused Approach, 5th. Ed., McGraw-Hill Companies, New York.

23. Tugas Akhir [6]
Penelitian eksperimental dan non eksperimental (sosial); analisis data,aplikasi statistika; metode penulisan dan teknik presentasi; mempertahankan hasil penelitian dalam bentuk tulisan ilmiah di bawah bimbingan dosen di hadapan dewan penguji.
Pustaka:

a. Brown, T.R., and Smith, M.C., 1986, Handbook of Institutional Pharmacy Practice, 2nd. Ed., Williams and Wilkins, Baltimore
b. Gibaldi, J., 1999, Handbook for Writers of Research Paper, 5th. Ed., The Modern Language Association of America, New York
c. Nelson, A.A., 1980, Research Methods for Pharmaceutical Practice, A. J. Hosp. Pharm, 37, 107-110
d. Pratiknyo, A.W., 2003, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
e. Scheffer, W.C., 1979, Statistika untuk Biologi, Farmasi, Kedokteran dan Ilmu yang Bertautan, Terjemahan Suroso, Penerbit ITB, Bandung

24. Peraturan perundang-undangan & Etika Kesehatan [2]
Pendahuluan; membicarakan peraturan perundang undang-an Indonesia di bidang kesehatan khususnya farmasi dan yang terkait disertai contoh-contoh penerapan, pelanggaran dan sanksinya; hak dan kewajiban apoteker dalam pekerjaan dan pelayanan kefarmasian, membicarakan tentang etika dan moral (sasaran dan normanya) di bidang kesehatan, kedokteran, farmasi; dan sanksi hukum dan terhadap pelanggarannya; kode etik profesi.
Pustaka :

a. Anonim, 1997, Kumpulan Peraturan Perundang-undangan Farmasi, KORPRI Dit Jen POM, Jakarta.
b. Anonim, 1992, Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 thn 1992 tentang Kesehatan, Dept Kes., Jakarta.
c. Anonim, 1997, Undang-Undang Republik Indonesia No. 22 thn 1997 tentang Narkotika, Departemen Kesehatan, Jakarta.
d. Anonim, 1997, Undang-Undang Republik Indonesia No. 5, thn 1997 tentang Psikotropika, Departemen Kesehatan Jakarta
e. Anonim, 1999, Undang-Undang Republik Indonesia No. 8, thn 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Departemen Kesehatan, Jakarta
f. Troy, B.D (ed.) 2006, Remington : The Science and Practice of Pharmacy, 21st. Ed., Lippincott Williams & Wilkins.

25. Kewirausahaan [2]
Pendahuluan; arti kewirausahaan dan menjadi wiraswasta yang tangguh dengan cara hidup dan berpikir positip; sifat-sifat yang perlu dimiliki oleh wirausaha; berfikir maju sebagai sumber kesuksesan; kreativitas dan inovasi dan memperkuat daya juang; meningkatkan produktivitas usaha melalui motivasi; manajemen dan organisasi; sistem informasi dan manajemen; manajemen : produksi, pemasaran, personalia, akuntasi, SDM dan kelayakan usaha
Pustaka:

a. Buchari Alma, 2007, Kewirausahaan, Penerbit Alfabeta, Bandung
b. Fadel Muhammad, 1992, Industrialisasi dan Wira-swasta, Gramedia, Jakarta.
c. Hisrich, R.D., and Peters, M.P., 1995, Entrepreneur-ship, Irwin, Chicago